Tampilkan postingan dengan label WhatzUp. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Cara Mendaftar di terbitgratis.com


  1.   Buka web reseller terbitgratis.com dari link atau dengan menulis alamat URL secara lengkap. Daftarnya   bisa dilihat di Menerbitkan Buku di LeutikaPrio Hanya Rp 875.000,-.



2. Setelah dibaca, klik OKE SAYA DAFTAR!


3.    Lengkapi form yang disediakan, lalu klik Daftar. 


4.      Anda akan memperoleh email dari billing@terbitgratis.com untuk transfer pembayaran sebesar Rp 875.000. Silakan dicek di inbox maupun di spam. 



5.       Setelah transfer, silakan konfirmasi lewat sms ke nomor 0821 38 388 988 dengan format seperti petunjuk dalam email.

6.       Web reseller Anda akan diaktifkan dalam 1 x 24 jam dan akan diberitahukan melalui email. Silakan cek di email, baik di inbox maupun di spam.






7.       Setelah diaktifkan, silakan login di web reseller terbitgratis dengan alamat email dan password waktu mendaftar, lalu silakan mengubah alamat web sesuai nama yang Anda sukai. Form nomor rekening juga agar diisi untuk keperluan transfer komisi. Lalu klik Ubah.





8.       Setelah itu, alamat URL lengkap web reseller Anda sudah bisa Anda promosikan di fb, blog, twitter, dll.

9.   Untuk mendaftarkan naskah, silakan buka web www.leutikaprio.com dengan cara login menggunakan email dan password seperti ketika mendaftar di terbitgratis.com. 



10. Pada menu Menerbitkan Buku, silakan dibaca terlebih dahulu Cara Menerbitkan Buku, Kontrak Kerja Sama, dan Paket Penerbitan. Setelah itu, Anda bisa klik Kirim Naskah dan mengisi form yang tersedia. Kemudian klik Kirim. 




         11.  Naskah Anda akan diproses dan dipublish sesuai dengan paket yang Anda tentukan.
         Terima kasih banyak  :)
Read More

Kamis, 25 Oktober 2012

Penulis Self Publishing Ibarat Editor di Penerbit Konvensional


Pikiran itu terlintas beberapa waktu lalu ketika saya membaca sebuah artikel di blog. Kenapa bisa begitu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat tugas seorang editor di penerbit konvensional.

Tugas seorang editor adalah menyaring naskah yang masuk, mempertimbangkan nilai komersial dari sebuah naskah, memprediksi naskah yang sedang populer, mencari tema yang disukai pembaca, membuat konsep naskah, hingga mencari penulis yang sesuai. Sukses tidaknya kerja editor dinilai dari keberhasilan mereka dalam menjual jumlah eksemplar buku yang mereka terbitkan. Karena itu seorang editor juga harus memiliki kemampuan lain selain yang disebutkan di atas. Editor juga harus mampu membuat konsep cover yang sesuai dengan naskah. Meskipun ada ungkapan “don’t judge a book by its cover”, tapi bagaimanapun ketika seorang konsumen ingin membeli buku, cover-lah yang pertama kali mereka lihat. Cover yang eye catching mampu membuat konsumen mendekat untuk kemudian membaca sinopsisnya sehingga akan penasaran dengan isi buku. Jika calon pembeli merasa tertarik dengan sinopsis dan cover maka dia akan membeli. Jika isi buku menarik, dia merasa puas, sehingga dia akan merekomendasikan ke teman-temannya.

Seorang editor juga harus mampu membuat konsep promo atau event yang cocok untuk buku yang diterbitkannya. Promo yang unik dan menarik akan meningkatkan penjualan buku. Saya pribadi setuju dengan ungkapan “editor adalah jenderal berbintang lima bagi setiap buku yang diterbitkannya”, sebab sukses tidaknya sebuah buku tergantung pada seorang editor.

Lalu bagaimana dengan penulis di self publishing? Menjadi penulis di self publishing, jelas apa-apa harus dilakukan sendiri. Mulai dari menulis naskah, membuat konsep cover dan memilih designer cover yang bisa mewujudkan keinginannya, mencari penerbit atau percetakan, mencari teknik penjualan yang sesuai, juga membuat promo supaya penjualan buku lebih bagus. Jika penjualan buku di penerbit konvensional sangat bergantung pada editor maka keberhasilan sebuah buku di self publishing sangat bergantung pada setiap penulis yang menelurkan tulisannya. Di self publishing, penulislah yang menjadi jenderal berbintang lima di setiap bukunya yang diterbitkan. Kesuksesan sebuah buku sangat bergantung pada usaha penulis untuk mempromosikannya. Semakin rajin dan giat berpromosi, semakin banyak eksemplar buku yang terjual.

Lalu, sebagai seorang jenderal di self publishing, apakah penulis bisa membawa kesuksesan untuk buku yang mereka terbitkan? Tentu saja bisa, kenapa tidak? Dengan marketing yang bagus dan kreatif mereka bisa membuat penjualan buku mereka tak kalah dengan penjualan buku di penerbit konvensional.

Sampai saat ini saya masih kagum dengan kemampuan Ikhsanun Kamil Pratama dan Foezi Citra Cuaca dalam menjenderali buku Menikah Itu Mudah. Buku motivasi dan pengembangan diri ini hampir terjual 1.000 eksemplar dalam waktu 6 bulan. Untuk buku-buku dari penerbit konvensional, hal ini mungkin biasa, sebab buku mereka tersebar di toko-toko buku. Namun, untuk self publishing, penjualan buku ini bisa dibilang cukup fantastis.

Tidak kalah dari pasangan suami istri itu adalah Kak Christie Damayanti, penulis buku Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit (Sebuah Catatan dan Kesaksian Seorang Stroke Survivor). Hanya dalam 1 bulan Kak Christie Damayanti mampu menjual bukunya lebih dari 500 eksemplar. Bisa cek info lengkapnya di http://lifestyle.kompasiana.com/ catatan/2012/09/18/dalam-15-hari-terjual-528-buku-jika-tuhan-berkehendak-siapa-yang-dapat-melawan/.

Melihat kedua buku tersebut, saya sangat optimis terhadap perkembangan self publishing di Indonesia. Ke depannya akan semakin banyak penulis yang sukses memanfaatkan layanan self publishing. Bahkan orang yang mempunyai ilmu marketing yang bagus dan memiliki kemampuan memprediksi naskah bisa berperan sebagai “editor” di self publishing. Mereka mencari naskah, mencetaknya dalam jumlah tertentu, dan menjualnya. Hal ini bisa terwujud jika self publishing yang mereka pilih mempunyai fasilitas-fasilitas yang mendukung, seperti design cover yang bagus, diskon pembelian yang cukup besar, dan branding yang bagus.

Demikian catatan dari saya, semoga bermanfaat. Selamat berkarya, selamat menjenderali naskah! @fatkah
Read More

Jumat, 27 April 2012

Miss Perfect Jutek

Pernah terbayang nggak, bagaimana rasanya bertemu dengan seorang perempuan yang super jutek? Nah bagi yang pernah, pasti udah ngerasain gimana rasanya kuping memanas, muka bersemu merah, menggerutu dan berbagai macam gejala yang mengganggu mental dan batin saat berbicara dengannya. Hal serupa juga dialami oleh salah satu tokoh di dalam novel ini yang bernama Selly saat bertemu dengan si gadis jutek, Sany. Sebagai Maba (Mahasiswa Baru) program studi Hukum yang ditempatkan bersama dalam satu kelas, Sany dan Selly nggak pernah akur. Tapi pernah nggak sih, kita berpikir kalau ternyata gadis jutek itu punya hati yang yang lembut dan tulus banget? 

Hmm.. kayak gimana ya? Dan ternyata, dia juga bisa menarik hati seorang lelaki tampan yang super cool loh. Yang paling penting lagi, dia bisa menyatukan perbedaan dan cinta orang-orang yang kelak menjadi teman akrabnya. Wah, kebayang nggak sih? Nah bagi kamu yang belum pernah bertemu dengan gadis jutek sebelumnya, kamu wajib baca buku ini. Tapi kalau sudah punya pengalaman sebelumnya, itu lebih wajib lagi untuk menambah pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas lagi tentang gadis jutek. Hehehehehe!

Read More

Rabu, 18 April 2012

Ujian Nasional: Kelulusan Vs Kejujuran

Topik hangat minggu ini dimana anak-anak sekolahan yang menempuh ujian, hari terakhir  UAN 2012.

Sekilas, berdasarkan konsep tersuratnya UN tidak lebih hanya bentuk ujian akhir bagi anak sekolah dengan standarisasi nasional. Selebihnya jika diperhatikan dengan seksama akan semakin tampaklah bahwa UN mempunyai kekuatan magis yang bisa menyihir siapapun. Mulai dari peserta didik, emak-abahnya, para guru, kepala sekolah, sampai kepada pimpinan daerah dan negeri ini.

Daya sihir yang dahsyat itu akan menimbulkan daya magnetik seiring dengan semakin dekat waktu pelaksanaanya. Kesibukan demi kesibukan silih berganti. Berdaya atau tidak, namun semuanya menyatu dalam satu hasrat ‘lulus’. Namun bicara UN tidak sekedar bicara lulus atau tidak. Ada sebuah universalitas sikap yang harus dijaga disana. Salah satunya kejujuran! Ketika kejujuran sudah digadaikan hanya sebuah nilai dan pencitraan, berarti kita sudah menyiapkan tanah perkuburan atas nama pendidikan Indonesia.

Buku ini merefleksikan diri agar tidak terjebak sikap konformis buta!
Read More

Koloni Milanisti, Sebuah Hidup di Atas Mimpi

Mars, seorang perempuan dari kampung ini merasa bersyukur karena pernah terserang penyakit gila bola. Karena penyakit itulah yang membuatnya bertemu dengan tiga lelaki rahasia dalam kotaknya, dengan sahabat-sahabat yang tergabung dalam Koloni Milanisti yakni para penggila AC Milan yang disatukan oleh panji-panji merah hitam Rossonero.

Impiannya adalah menjejakkan kaki di negeri nan molek bernama Italia dan berdiri di Stadion San Siro untuk melihat lelaki rahasia dalam kotaknya. Dan impian adalah magnet, Italia merupakan poros dimana ia terus melangkah. Impiannya itu membawanya dalam jalur-jalur hidup penuh petualangan sekaligus pembelajaran hidup dalam proses perwujudannya.

Ia merasai persahabatan, cinta, budaya, pizza, kopi, sepakbola dan esensi agama yang membawanya ke dalam pengalaman tak terlupakan. Maka ikutlah bersamanya, menikmati hidup di bawah langit biru Perugia, menyesap orgasmiknya coffelatte, menciumi aroma pizza carbonara, merasakan hembusan angin sore yang dibawa laut Mediterania, serta kegilaaan fans sepakbola dengan segala ceritanya yang mungkin saja akan membuatmu tergelak, tersenyum, tertawa ataupun bahkan menangis.
Read More

Kamis, 15 Maret 2012

Motivasi Pengembangan Diri : "Segalanya Bagiku"

Segalanya Bagiku, adalah kumpulan kisah nyata yang menginsyafkan banyak orang yang lupa akan peran ibunya sendiri. Inilah kisah sosok SEDERHANA yang MEMPERKAYA kebijaksanaan kita. Buku kecil yang bisa membesarkan hati kita. (Mataharitimoer, Blogger, Penulis Jihad Terlarang)  
 
Membaca buku ...Segalanya Bagiku (Sebuah Antologi Kisah Kasih Ibu) karya Jazim Naira Chand dan kawan-kawan sungguh menggugah. Suguhan 30 kisah fresh from the oven adalah kisah tentang ‘Ibu Kita’, ibu dengan segala kehebatannya yang ‘membentuk’ kita. Tidak dapat tidak, kisah-kisah inspratif, edukatif, dan konstruktif tersebut adalah kaca untaian kehidupan ‘kita’ yang diceritakan teman-teman dengan ‘jiwa’. Melalui ibu kita ada dan karena ibu kita ‘menjadi’, menjadi manusia. Ibu adalah ‘cermin’ pencerahan, bukan saja dalam menatap langkah di kehidupan kefanaan ini, terlebih dalam meraih kehidupan di keabadian sebagaimana dijanjikan Allah Swt. Membaca kisah-kisah dalam buku ini, kita membaca diri, membaca hikmah-hikmah. (Ersis Warmansyah Abbas, Motivator Kepenulisan, Dosen dan Pengusaha) 

Read More

Banyak Jalan Mewujudkan Impian

Seperti anak kecil ketika ditanya sama gurunya disekolah, sering sekali mereka menjawab cita-citanya dengan jawaban asal-asalan, bahkan ada yang menjawab ingin jadi Batman, karena memang anak kecil belum bisa berfikir realistis.

Bertambahnya waktu dengan mereka bergaul dengan lingkungan yang berbeda, impian dan cita-citanya belum tentu bisa terwujud. Tetapi dengan sekecil harapan yang mereka katakan itu akan menimbulkan sugesti bahwa mereka bisa mewujudkannya.

Disini saya ingin menceritakan pengalaman pribadi temen saya. Dia waktu kecil bercita-cita menjadi seorang guru, tetapi dia keterima kuliah dijurusan hukum, yang dia harapkan dia keterima diilmu pendidikan. Walaupun cita-citanya tidak tercapai, tapi dia tetap ingin menjadi seorang guru, singkat cerita dia mengambil langkah bagaimana dia bisa menjadi sosok guru, tidak hanya dari anak-anaknya tetapi juga orang lain. akhirnya dia memberikan pengajaran yang ditumpahkan lewat tulisan, dia sekarang sedang mencoba belajar menjadi seorang penulis. dan ingin memberikan pelajarannya lewat buku. Keinginan kuat tersebut kini sedang dia jalani. Harapannya kini semakin terbuka lebar untuk menjadi seorang guru.

Apapun impian yang kita sudah capai sekarang, kita masih bisa mewujudkan impian yang lain juga, Kita harus meyakini bahwa tuhan akan memberikan jalan untuk orang yang mempunyai impian sekecil apapun.
Read More

Selasa, 06 Maret 2012

Membuat Cerita Perjalanan


Berkunjung kesuatu tempat nampaknya lebih menarik jika kita bisa menceritakan hasil kunjungan atau perjalanan kita. Berwisata sambil mencari data kemudian mencatat hal-hal yang menarik selain untuk diri sendiri bisa juga diceritakan kepada orang lain.

Menulis cerita perjalanan tentu saja ada persiapan agar ketika kita melakukan perjalanan bisa mendapatkan cerita yang menarik. Selain tulisan sangat bagus jika kita memiliki kamera. Kenapa perlu kamera? karena kita bisa foto objek menarik atau foto narsis sebagai bukti dokumentasi.

Berikut ini ada beberapa tips melakukan perjalanan dan membuat dokumentasi perjalanan tersebut :



1. Riset (Cari informasi awal)
Sebelum perjalanan berlangsung mulailah dengan mencari informasi tentang tempat yang akan menjadi tujuan perjalanan, seperti kontak person, nama-nama lokasi, peta lokasi, perlengkapan yang dibutuhkan dan transportasi .Tujuannya agar bisa mendapatkan informasi apa yang kita butuhkan atau gambaran apa yang kita butuhkan dalam perjalanan nanti, alias agar tidak bingung nanti di tempat tujuannya.

Read More

Kamis, 23 Februari 2012

Self Publishing: Langkah Bijaksana Bagi Penulis

Banyak cara orang menjajakan barang dagangannya. Tujuan utamanya tentu agar dagangannya cepat laku. Seorang penjual koran, misalnya, menjajakan korannya di perempatan dengan membacakan berita-berita utama (headline news) agar calon pembeli bisa cepat tertarik dengan koran dalam genggamannya, dan akhirnya membelinya. Mereka tidak cukup dengan cara konvensional yaitu menyebut kata “koran” berkali-kali.

Demikian halnya dalam dunia penerbitan buku. Ada cara penerbitan buku yang dilakukan oleh penulisnya sendiri yang disebut: sef-publishing. Menurut situs Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Self-publishing), self-publishing is the publication of any book or other media by the author of the work, without the involvement of an established third-party publisher. It is generally entirely done at the expense of the author. Yang artinya: Penerbitan sendiri adalah publikasi buku apa saja atau media lain oleh penulis atau pengarang, tanpa melibatkan pihak ketiga penerbit ternama. Penerbitannya secara umum dibiayai oleh si penulis.
Read More

Self Publishing: Exclusive Publishing?



Self Publishing. Ini sesungguhnya bukan fenomena baru dalam dunia perbukuan tanah air. Dalam catatannya, Bambang Trim, seorang editor handal dan praktisi perbukuan nasional mendefinisikan ‘self publishing’ sebagai action seorang penulis saat memutuskan menerbitkan sendiri naskahnya dengan menyertakan investasi waktu dan dana, terlibat langsung dalam keseluruhan prosesnya mulai dari menggunakan jasa penerbitan, bernegosiasi dalam hal percetakan sampai ikut mengontrol pemasaran.

Dalam perkembangannya, self publishing kian marak dengan bertambahnya jumlah penerbit juga situs online yang memfasilitasi penerbitan buku secara mandiri oleh penulis yang berlangsung dalam akad Al-Mudharabah ini, di mana satu pihak (penulis) menyediakan seluruh modal dan pihak penerbit sebagai pengelola, dan selanjutnya keuntungan akan dibagi berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Dengan cara ini seorang penulis akan mendapat manfaat ganda yaitu mampu mengembangkan writerpreneurship secara optimal dan secara materi pun berpotensi memperoleh imbalan lebih besar daripada menerbitkan melalui jalur konvensional penerbitan biasa.
Read More

Self Publishing: Personal Branding






Writing is not job, It’s a Business!

--Dan Poynter--
Branding adalah semua hal yang dipikirkan orang lain tentang Anda
--Al Ries dan Laura Ries--
Awali branding Anda dengan tulisan
--Edy Zaques--

Dan Poynter, peletak dasar self-publishing, menggagas self publishing dengan salah satu alasannya adalah masalah ekonomis. Tidak dapat dipungkiri lagi, ujarnya, bahwa dunia penerbitan adalah dunia bisnis yang menggunakan kacamata untung-rugi dalam setiap aktivitasnya. Maka tidak heran jika kemudian ada penolakan pada naskah-naskah yang masuk ke meja redaksi, karena salah satu alasan penolakan tersebut adalah naskah tersebut dinilai tidak mempunyai nilai jual bagi masyarakat.

Hal ini lazim untuk dipahami. Penerbit, sebagai lembaga terkait hal ini, tentulah mempunyai komponen-komponen yang memerlukan dana. Penerbitan kecil saja, ulasan dari Kang Arul, penulis buku writerpreneurship membutuhkan setidaknya biaya gaji karyawan bagian redaksi dan bagian pemasaran. Lain lagi bagi komponen kantor seperti rekening listrik, pembelian ATK, penyediaan komputer dan pendukungnya, pulsa atau tagihan telepon, biaya ekspedisi, sampai pengeluaran biaya untuk produksi sebuah buku. Belum lagi hak penulis dalam bentuk royalti atau pembelian putus.
Read More

Self Publishing: Hamil Sastra, Aktualisasi dan Jarak Tembak




Berbagai kalangan, mulai dari para penggiat literer, akademisi, komunitas pecinta budaya sampai pribadi yang notabene awam sastra, pada hakikatnya menilai bahwa penulis yang menerbitkan buku melalui jalur self publishing adalah penulis sekali jadi, karbitan ataupun penulis fast-track. Seakan-akan ada pengelompokan yang tidak kasat mata bahwa penulis yang menempuh rute penerbitan konvensional adalah kalangan ‘borjuis’ dan ‘priyayi’, sedangkan, para pelaku literasi yang menerbitkan sendiri bukunya dan hanya nampang di media online adalah kelompok ‘proletar’ dan ‘abangan’ dalam belantika sastra Indonesia.

Sebenarnya, klasifikasi ini tidak sepenuhnya salah atau bersifat diskriminatif karena ada ‘sistem seleksi’ yang sangat ketat bagi siapa saja yang ingin menerbitkan buku secara tradisional. Tetapi, kita juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa ada beberapa kisah metamorfosis yang dalam prosesnya mengubah penulis self-published, yang namanya tidak ada dalam ensiklopedia sastra manapun, menjadi penulis berlabel best seller nasional bahkan internasional yang karyanya diapresiasi dunia.
Read More

Self Publishing: Jurus Anti Tolak



Capek-capek nulis naskah buku kena tolak? Kasian deh! Itulah yang sering dialami oleh kebanyakan penulis mula. Menulis naskah buku bukan hal yang gampang bagi para penulis mula. Membutuhkan keseriusan, tekad, niat dan kesungguhan dalam menggarapnya. Berbeda dengan mereka yang sudah punya jam terbang tinggi, satu buah naskah buku mungkin bisa diselesaikan dalam hitungan hari. Tapi tentu saja tak begitu dengan para pemula. Satu naskah membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya, dan setelah berdarah-darah menyelesaikannya, ujung-ujungnya ditolak penerbit, sungguh menyedihkan! Banyak para pemula yang gantung pena karena tidak sabar dengan kondisi proses ini. Apakah Anda salah satu orang yang mengalami nasib ini? atau justru lebih parah lagi beberapa naskah Anda berkali-kali ditolak penerbit? cukup, jangan bersedih dan berkecil hati, Anda bisa renungkan beberapa penjelasan berikut ini
.
Read More

Self Publishing: Bukan si Anak Haram





Sering saya mendengar, penulis yang menerbitkan bukunya secara indie (self publishing) adalah penulis yang gagal. Paling tidak, mereka gagal menembus penerbit konvensional, dan oleh karenanya, menerbitkan buku secara mandiri merupakan jalan paling rasional yang bisa mereka tempuh.

Pernyataan itu mudah untuk dimengerti. Apalagi ketika mengingat, menerbitkan buku secara self publishing tidak melalui tahapan yang berbelit dan seleksi ketat dari redaksi. Inilah yang kemudian menjadi kritik paling tajam bagi buku-buku self publishing: rendahnya kualitas tulisan atau buku yang diterbitkan. Buku yang ‘asal terbit’, dan bukan yang ‘layak terbit’. Kritik ini masih ditambah dengan adanya cibiran dari sebagian orang, yang memandang buku-buku self publishing hanya dengan sebelah mata.
Read More

Mengatasi ‘Kutukan’ Buku Indie!




Naskah ditolak penerbit? Wah, ini ‘kutukan’. Hussy, hiperbolis! Hehe... Sudah berusaha semaksimal mungkin, eeh… ujung-ujungnya visi penerbit kadang tidak selalu sejalan dengan penulis. Sebenarnya naskah saya telah selesai tahun 2008 yang lalu. Tetapi saya bingung, apakah akan dikirim ke penerbit biasa (regular) atau mencoba sesuatu yang baru yaitu diterbitkan secara self publishing (indie).

“Apa?!? Self Publishing? Buku Indie? Apa tuh?”

“Itu loh, buku yang diterbitkan secara independen/pribadi”

Sambil berpikir, saya pun mencari-cari informasi tentang self publishing di internet. Ternyata keren juga ya, punya penerbitan sendiri. Bisa ‘semau’ kita dengan naskah yang kita miliki tanpa ada ‘intervensi’ dari pihak lain. Saya bisa menuliskan nama penerbitan yang saya inginkan. Saya akan mencantumkan ‘iklan promosi’ taman bacaan gratis (sebuah lembaga sosial kemasyarakatan yang bersifat nirlaba) yang saya kelola dalam buku tersebut, Asiik…
Read More

Self Publishing: An Interesting Beginning of An Amazing Dreaming




Self publishing berarti menerbitkan sebuah karya (dalam hal ini berarti buku) sendiri. Tanpa penulis harus menunggu kesempatan dari penerbit, harap-harap cemas tentang ‘sensor’-an naskah jika ternyata penerbit deal untuk menerbitkan, dan meng-’iya’-kan semua keputusan penerbit.

Ya, itulah self publishing. Sebuah cara baru yang lebih cerdas dan sangat tepat untuk (khususnya) para penulis pemula, yang tidak perlu harus menjadi penulis terkenal dan mempunyai banyak buku, agar tulisan mereka diterbitkan. Salah satunya, seperti saya.

Sebagai penulis pemula, siapa sih yang gak ingin karyanya terbit? Saya rasa sebagian besar orang yang suka menulis pasti ingin karyanya terbit dalam sebuah buku dan dibaca oleh banyak orang. Saya pun demikian… Huwaa… sebuah bayangan yang sangat menakjubkan!
Read More

Ketika “Newbie” Meraih Mimpi



Menulis, sebuah minat yang kini tengah menjalar pada sebagian besar masyarakat. Tak terbatas usia, muda dan dewasa saling berlomba untuk menuangkan segala ide yang bergerak di kepala, menangkapnya dalam rangkaian kalimat sarat makna dan menjadikannya selayak identitas diri bernama “Buku”. Sayang, menjamurnya para penulis pemula tak sebanding dengan jumlah penerbit yang ada.

Aku adalah salah satu dari mereka yang tengah berjuang meraih mimpi sebagai penulis. Walaupun menyadari kemampuan yang kupunya masih jauh dari kata “Sempurna”, namun serenade mimpi yang hendak kulukis masih berhak untuk kunalar. Selama beberapa tahun, aku hanya sanggup menuliskan segenap ide dalam file pribadi, tanpa berbesar hati untuk mempublikasikannya. Hingga suatu hari seorang sahabat maya menyapaku dengan sebuah kalimat yang kuanggap sentilan terindah dalam perjalanan hidupku, setidaknya sampai aku berada pada fase sekarang ini.
Read More

Everything Depends on Us (Writer)





Dahulu, setelah membaca biografi beberapa penulis yang menyebutkan perjuangan mereka agar karyanya bisa diterbitkan, saya berpikir bahwa untuk membukukan tulisan yang kita buat harus menghubungi penerbit, penerbit qualified tentunya. Dan untuk bisa diterbitkan oleh penerbit tersebut harus melalui proses yang panjang, seperti penolakkan berkali-kali atau penerbit meminta untuk merevisi ini dan itu lebih dari sekali. Maka penulis (terutama pemula) akan pontang panting agar karyanya bisa diterbitkan. Penulis harus bersaing dengan penulis lain dalam daftar waiting list di penerbit. Bertolak dari hal tersebut maka saya sempat berpikir bahwa adalah mustahil bagi saya bisa membukukan tulisan. Apalah saya ini, tulisan masih biasa saja, nama juga tidak terkenal. Lengkap sudah alasan saya untuk putus asa dalam membukukan tulisan maka saya cukup pasrah dengan mengirim tulisan-tulisan ke media saja dengan honor sekedarnya.
Read More

Menerbitkan Buku di Self Publishing? Kenapa Tidak!






Beberapa tahun belakangan ini, ketertarikan pada dunia menulis dan membaca semakin menggeliat. Apa pun faktor yang mendorongnya, fenomena ini perlu direspons positif. Masyarakat yang membaca dan menulis adalah masyarakat yang lebih cerdas daripada masyarakat yang hanya pintar bicara.

Menurut Gleen Doman dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.

Menulis adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban kita kepada kehidupan. Para penulis merasakan ada sesuatu yang membetot hatinya untuk menulis sesuatu yang berarti bagi masyarakat. Apalagi ketika ada sesuatu yang dapat merugikan masyarakat jika tidak diketahui, maka penulis mempunyai pertanggungjawaban moral untuk mengungkapkannya. (anneahira.com).
Read More

Selasa, 21 Februari 2012

Peluang Bisnis Intelektual Untuk Dosen dan Guru






Buku adalah suatu produk intelektual yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan akademis. Menerbitkan buku memiliki 
prestige tersendiri sebagai wujud eksistensi. Banyak sekali penulis potensial yang tidak bisa menerbitkan karyanya karena terkendala biaya yang cukup mahal. LeutikaPrio sebagai lini Self Publishing dari LeutikaCorp, perusahaan yang mendedikasikan diri di dunia Literasi berusaha menfasilitasi para penulis untuk menerbitkan karya mereka dengan murah dan mudah.

Inovasi Self Publishing telah berkembang pesat di dunia barat, negara-negara yang notabene sangat mengapresiasi buku sebagai salah satu produk budaya.  Berawal dari pemikiran Dan Poynter , seorang penulis dan pembicara professional asal amerika, fenomena self publishing berkembang pesat sampai ke Indonesia. LeutikaPrio salah satunya. Berbeda dengan Self Publishing lain yang hanya membantu jasa cetak buku dengan sistem POD, LeutikaPrio memberi banyak layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan penulis.
Read More